Showing posts with label teori. Show all posts
Showing posts with label teori. Show all posts

Saturday, July 13, 2013

Misteri "Faint Young Sun Paradox" Akhirnya Terjawab

http://astronesia.blogspot.com/
Ilustrasi keadaan Bumi 2,8 milyar tahun lalu

Astronesia-Para ilmuwan selama beberapa dekade ini berkutat mencari jawaban atas misteri ‘faint young Sun paradox’. Paradoks ini pertama kali dikemukakan oleh Carl Segan dan George Muller didasari dua fakta yang sulit untuk dipertemukan pada 1972.
 

Adapun kedua fakta yang berlawanan tersebut menjelaskan bahwa bagaimana Bumi cukup hangat dan layak huni bagi kehidupan sejak tiga miliar tahun lalu, meskipun di saat yang sama Matahari sudah mulai meredup hingga 20 persen.

Selama bertahun-tahun lamanya berbagai solusi telah diusulkan untuk pemecahan masalah yang membingungkan ini. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa meski Matahari mulai meredup, tetapi angin bola panas itu lebih kuat. Sehingga, tetap dapat memancarkan panas ke Bumi.

Sementara ilmuwan lain berpendapat, tingkat karbon dioksida dan gas metana yang tinggi di atmosfer telah menciptakan efek rumah kaca yang menahan panas di planet ini. Tetapi, belum ada seorang pun yang mampu menemukan jalan tengah dari perdebatan ini.

Silang pendapat tersebut tidak mengurungkan niat seorang mahasiswa doktoral, Eric Wolf dari University of Colorado di Amerika Serikat (AS) untuk membuat sebuah model tiga dimensi (3D) terkait kompleksitas antara iklim Bumi dan Matahari yang disebut-sebut telah meredup 20 persen kala itu.

Dilansir LATimes, Sabtu (13/7/2013), Wolf mengungkapkan, hal ini dimaksudkan untuk ‘menambal’ model iklim sebelumnya yang menggunakan satu dimensi. Sehingga tidak memasukkan faktor iklim penting, seperti awan, angin, dan lautan es.

Sedangkan dalam model 3D yang dikembangkan Wolf menjelaskan, meski banyak lapisan es pada peiode Arkean yang membeku tetapi di saat yang sama cukup hangat untuk mendukung cairan (air) di khatulistiwa.

“Bahkan jika setengah dari permukaan Bumi berada di bawah titik beku, sementara setengah wilayah lainnya berada di atas titik beku seperti pada saat Arkean, planet kita tetap layak huni. Setidaknya, 50 persen lautan masih tetap terbuka,” kata Wolf.

Untuk membuat model 3D itu, Wolf menggunakan program komputer yang untuk meramalkan perubahan iklim masa kini. Diketahui Bumi pada 2,8 miliar tahun yang lalu tidak terdapat oksigen dan ozon, melainkan mengandung karbon dioksida dan gas metana lebih banyak. Disertai sedikit tanah dan awan pada saat itu.

Meski demikian, Wolf tidak dapat memastikan seperti apa iklim yang ada pada masa awal terbentuknya Bumi karena masih terlalu namual variable yang tidak dapat dipastikan, seperti berapa persisnya kandungan karbon dioksida dan metana di atmosfer.

Ia mengatakan bahwa dengan menggunakan model 3D kompleks yang dikembangkannya ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk menjawab misteri ‘faint young Sun paradox’ yang selama ini masih menjadi pedebatan.


Sumber : Okezone

Wednesday, July 10, 2013

Ternyata Tata Surya Punya Ekor

http://astronesia.blogspot.com/
Ilustrasi menunjukkan angin surya Heliotail

Astronesia-Astronom berhasil mengungkap foto ekor Tata Surya atau heliotail untuk pertama kali. Ilmuwan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyatakan bahwa ekor Tata Surya punya bentuk mirip empat daun semanggi.

Wajah Tata Surya tersebut berhasil diungkap dengan Interstellar Boundary Explorer (IBEX), wahana antariksa yang diluncurkan pada tahun 2008, bertugas untuk mempelajari lingkungan tepian Tata Surya.

"Ilmuwan selalu menduga bahwa heliosphere memiliki ekor," kata Eric Christian, peneliti pada misi IBEX dari Goddard Space Flight Center di Greenbelt dalam Google+ Hangout untuk mengumumkan penemuan tersebut, Rabu (10/7/2013).

"Namun, ini pertama kalinya data nyata yang kami miliki berhasil mengungkap bentuk ekor Tata Surya tersebut," tambah Christian seperti dikutip Space, Rabu.

David McComas, pimpinan misi IBEX, mengatakan, ekor Tata Surya memanjang di belakang heliosphere, gelembung di sekitar Tata Surya yang terbentuk oleh angin Matahari dan medan magnet Matahari, yang berbentuk seperti peluru.



http://astronesia.blogspot.com/
Ilustrasi heliosphere, yang merupakan gelembung dalam ruang angaksa yang diciptakan oleh angin matahari dan medan magnet matahari.


McComas yang merupakan ilmuwan dari Southwest Research Institute di San Antonio, Texas, mengungkapkan bahwa heliotail memiliki ukuran lebih besar dari yang sebelumnya diperkirakan.

Walaupun demikian, belum diketahui secara pasti ukuran heliotail tersebut. Diperkirakan, heliotail memanjang hingga 1000 kali jarak Bumi-Matahari (Jarak Bumi-Matahari adalah 149,6 juta kilometer).

Menurut ilmuwan, heliotail punya bentuk empat daun semanggi karena dipengaruhi oleh angin Matahari cepat yang meluncur dari kutub Matahari dan angin Matahari lambat yang meluncur dari khatulistiwa bintang di Tata Surya itu.

Angin Matahari adalah aliran partikel bermuatan yang berasal dari atmosfer Matahari. Angin Matahari mayoritas tersusun atas proton dan elektron.

Bentuk heliotail tidak benar-benar segaris dengan Tata Surya, mengindikasikan bahwa ekor Tata Surya tersebut dipengaruhi oleh medan magnet galaksi lokal.

Bentuk ekor Tata Surya ini diperoleh setelah observasi 3 tahun dengan IBEX. Ini membuktikan bahwa Tata Surya benar-benar memiliki ekor. Ke depan, ilmuwan berencana meneliti pengaruh siklus Matahari pada perubahan bentuk heliotail. 


Sumber : Kompas.com

Teori Pembentukan Bulan Masih Berlanjut

http://astronesia.blogspot.com/
Ilustrasi

Astronesia-Empat dekade lalu, sebuah teori pembentukan Bulan -satelit milik Bumi- muncul. Teori itu menyebut tabrakan dahsyat dialami Bumi sekitar 4,5 miliar tahun lalu dengan benda langit yang kira-kira sebesar Planet Mars.

Tumbukan itu menyebabkan menyebarnya puing-puing besar ke angkasa luar. Hingga akhirnya membentuk Bulan, satelit bagi planet kita yang menciptakan gelombang pasang-surut di laut.

Ketika teori tabrakan besar ini muncul pada 1970-an, ia sesuai dengan pandangan bagaimana sistem tata surya terbentuk. Dalam pandangan ini, protoplanet-protoplanet yang penuh gas dan berbatu, tumbuh dalam piringan di sekitar Matahari muda. Selama puluhan juta tahun, protoplanet ini bersaing untuk ruang di antariksa. Sehingga tumbukan tidaklah terelakkan.

Saat Bumi semakin besar, ia menyerap beberapa objek yang kira-kira sebesar Planet Merkurius atau Mars. 

Dan, masih menurut teori tabrakan besar, Bulan terjadi berkat mayoritas puing-puing dari planet penabrak --protoplanet berbatu mirip Bumi. Karena si penabrak ini memiliki inti besi yang akhirnya tenggelam ke inti Bumi. Bulan sendiri terdiri dari batu keseluruhan.

Meski demikian, teori ini ternyata tidak sepenuhnya diterima oleh para astronom. Erik Asphaug, peneliti planet dari Arizona State University, Amerika Serikat, miliki pandangan berbeda. Dijelaskannya terdapat bukti-bukti baru yang menampik teori tabrakan besar.

Sebagai contoh, analisa terbaru dari batu Bulan menunjukkan bahwa mantel Bulan dan Bumi tidaklah sama. 

Elemen macam oksigen, silikon, dan titanium berasal dari beberapa varietas atau isotop. Campuran dari para isotop ini sedemikian rupa sangat mirip sehingga Bulan nampak terbentuk sepenuhnya dari pecahan Bumi, bukan dari si planet penabrak.

Kemungkinan lain yang bisa jadi teori adalah "tabrak-lari". Di mana terjadi tabrakan besar, tapi si penabrak yang berkecepatan tinggi tetap melaju setelah menyebabkan bongkahan besar mantel Bumi ke luar angkasa. Bongkahan ini bisa jadi pembentuk utama Bulan.

Atau mungkin juga Bulan memang terbentuk dari si planet penabrak. Namun kemudian ia terselimuti dengan lapisan tipis dari material Bumi yang bertahan di orbit paling tidak satu abad pasca-tabrakan.

Tantangan berikutnya bagi teori tabrakan besar adalah bagaimana menjelaskan kenapa sisi lain dari Bulan lebih bergunung-gunung dan berkulit tipis. Asphaug berteori bahwa Bumi mempunyai Bulan kedua yang menempelkan dirinya di saudaranya yang lebih besar.

"Pintu sudah terbuka dan kini kita punya banyak sekali pemikiran. Mungkin akan ada lagi momen 'aha!' pada lima tahun mendatang," kata Asphaug. Tapi untuk sekarang, Bulan masih menyimpan misterinya.

Sumber : National Geographic

Monday, July 8, 2013

Teori Baru : Dahulu Ada Dua Bulan Mengorbit Bumi

http://astronesia.blogspot.com/
Ilustrasi dua Bulan

Astronesia-Seorang peneliti dari University of California, Amerika Serikat, Professor Erik Asphaug, mengklaim bahwa Bumi sebenarnya memiliki dua Bulan. Namun, yang satunya sudah lama hancur.

Seperti dilansir harian Telegraph, Senin 7 Juli 2013, teori terbaru yang disampaikan oleh Asphaug di acara konferensi tentang bulan yang diadakan di Royal Society itu menyatakan pada jutaan tahun lalu Bumi mempunyai dua bulan kembar. "Yang satu berukuran kecil dan satu lagi seperti yang kita lihat sekarang," kata dia.

Menurut Asphaug, bulan yang berukuran lebih kecil diyakini hanya bertahan beberapa juta tahun saja, sebelum akhirnya hancur tertabrak oleh bulan yang ada sekarang.

"Dari hasil tabrakan itu, maka hanya menyisakan satu bulan besar yang dapat kita lihat sekarang," kata Asphaug.

Dia menjelaskan, kedua bulan itu mengorbit pada Bumi dengan jarak dan kecepatan yang sama. Kemudian secara perlahan kedua bulan itu saling bertabrakan dan bersatu.

"Saya menduga permukaan bulan yang seperti pegunungan adalah sisa-sisa dari bulan kecil yang hancur setelah bertabrakan. Bulan kecil itu diperkirakan berukuran one thirtieth," ujar Asphaug.

Bumi dan bulan diperkirakan terbentuk antara 30 juta sampai 130 juta tahun setelah kelahirang Tata Surya, atau sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu.

Dugaan Baru
Asphausg juga mengatakan, bulan memiliki hubungan yang sangat erat dengan Bumi. Ada dugaan baru yang menyatakan batuan mineral yang ada di bulan itu berasal dari Bumi.

"Milyaran tahun lalu, Bumi pernah diserang oleh asteroid besar yang memuntahkan isi Bumi sampai ke luar angkasa. Bukan tak mungkin, bagian-bagian Bumi yang mengandung mineral itu terhempas dan mendarat di bulan," kata Asphausg.


Sumber : Viva.co.id



Friday, July 5, 2013

Ilmuwan Mengklaim Bulan Terbentuk Dari Ledakan Inti Bumi

http://astronesia.blogspot.com/
Ilustrasi

Astronesia-Pembentukan Bulan telah lama menjadi perdebatan. Teori yang banyak dipercaya kini menyatakan bahwa Bulan terbentuk ketika ada obyek sebesar Mars menumbuk Bumi. Material hasil tumbukan terbang dan mengumpul membentuk Bulan.

Namun, sebenarnya ada beberapa teori lain, salah satunya yang dikemukakan astronom George Darwin, putra Charles Darwin. Menurut teorinya, dahulu Bumi berputar sangat cepat sehingga sebagian darinya runtuh dan membentuk Bulan.

Pakar keplanetan asal Belanda bernama Wim van Westrenen kini mengajukan teori baru pembentukan Bulan. Menurutnya, Bulan terbentuk dari peristiwa ledakan setara dengan 40 miliar kali bom atom yang terjadi di inti Bumi.

Teori tersebut diungkapkan berdasarkan pemahaman bahwa inti Bumi adalah sebuah reaktor raksasa yang bisa meledak melemparkan material pembentuk Bulan ke angkasa. Pandangan bahwa Bumi adalah reaktor raksasa ini telah diperdebatkan sejak 60 tahun lalu.


http://astronesia.blogspot.com/
Bumi dilihat dari permukaan Bulan


Bumi memiliki zat radioaktif seperti uranium dan plutonium yang terkandung dalam batuan yang "tenggelam" setelah terbentuk dan terkumpul di lapisan luar inti Bumi membentuk reservoir cairan. Saat zat radioaktif ini mendapatkan bahan bakar cukup, ledakan nuklir akan terjadi.

Van Westeren seperti dikutip Daily Mail, Kamis (4/7/2013), mengatakan, "Ledakan nuklir adalah satu-satunya cara yang dapat menghasilkan energi secara cepat untuk 'melemparkan' Bulan ke antariksa."

Salah satu bukti pendukung teori ini adalah kandungan kimia Bulan yang mirip Bumi. Bulan memiliki isotop oksigen, silikon dan potasium yang identik dengan Bumi. Hal itu menandakan bahwa Bulan dahulu 'dilahirkan' sendiri oleh Bumi.

Bukti bahwa Bumi merupakan sebuah reaktor raksasa memang telah ditemukan selama ini. Tapi, para ilmuwan belum yakin bahwa ledakan yang mungkin dihasilkan bisa melempar material ke antariksa dan menghasilkan Bulan.

"Saya kira Anda tidak bisa memisahkan proses pembentukan Bulan dari peristiwa tumbukan raksasa (4 miliar tahun lalu)," kata Matija Cuk, astronom dari Harvard University. Bulan sendiri bisa mengorbit Bumi karena tersusun dalam formasi yang mendukung. 


Sumber : Kompas

Benarkah Bimasakti Sudah Bertabrakan Dengan Galaksi Andromeda 10 Miliar Tahun Lalu?

http://astronesia.blogspot.com/
Ilustrasi tabrakan bimasakti dan andromeda

Astronesia-Selama bertahun-tahun, ilmuwan dan publik percaya bahwa galaksi Bimasakti dan Andromeda akan bertabrakan 3 miliar tahun lagi. Namun sekarang, pandangan seorang ilmuwan mengguncang keyakinan tersebut.

Dalam RAS National Astronomy Meeting di St Andrews, Hingsheng Zhao dari University of St Andrews mengatakan bahwa peristiwa tabrakan antara Bimasakti dan Andromeda sudah berlangsung 10 miliar tahun lalu. Kenapa Zhao berpandangan demikian?

Bimasakti adalah bagian dari kelompok galaksi yang dikenal dengan nama Local Group. Para kosmolog percaya bahwa sebagian besar massa grup galaksi tersebut tak terlihat, tersusun atas materi gelap. Di semesta, jumlah materi ini melebihi materi biasa dengan faktor lima.

Dipahami sebelumnya, materi gelap Bimasakti dan Andromeda punya daya tarik begitu kuat sehingga mengalahkan gaya yang memicu mengembangnya semesta. Kedua galaksi akhirnya bergerak saling mendekat dengan kecepatan 100 km/detik dan akan bertabrakan 3 miliar tahun lagi.

Namun, peristiwa tersebut hanya terjadi bila dipahami dengan dasar konsep gravitasi yang sudah usang dan konvensional, yang memiliki keterbatasan untuk menjelaskan fenomena yang ada di galaksi yang dilihat manusia saat ini.

Menurut Zhao, konsep gravitasi yang seharusnya dipakai adalah yang diajukan oleh Mordehai Milgrom dari Weizmann Institute di Israel pada tahun 1983. Teori gravitasi tersebut dikenal dengan Modified Newtonian Dynamics (MDO).

Berdasarkan teori MDO, konsep gravitasi sedikit berbeda dari yang diungkapkan Newton dan Einstein. Menurut teori ini, gravitasi punya perilaku lain di skala besar, persis seperti sifat partikel subatomik yang berbeda dengan materi yang lebih besar.

Nah, berdasarkan konsep gravitasi itu, Zhao melakukan pengukuran pergerakan galaksi-galaksi anggota Local Group. Diungkap kemudian bahwa tabrakan antara Bimasakti dan Andromeda sudah terjadi 10 miliar tahun lalu.

Tanda-tanda bahwa Bimasakti telah bertabrakan dengan Andromeda adalah adanya galaksi-galaksi kerdil. Keberadaan galaksi-galaksi kecil di sekitar Bimasakti cuma bisa dipahami bila berasal dari gas dan bintang yang memisah saat tabrakan antar-dua galaksi terjadi.

Diberitakan Physorg, Kamis (4/7/2013), meski sudah pernah bertabrakan, bukan berarti tabrakan Bimasakti dan Andromeda miliaran tahun ke depan batal. Saat ini, Andromeda juga sedang dalam perjalanan menuju Bimasakti.

Semua ini memang masih gagasan dan teori. Namun, Pavel Kroupa, anggota tim peneliti, mengungkapkan, "Jika teori ini benar, sejarah semesta harus ditulis ulang." gagasan Zhao dan timnya juga akan dipublikasikan di jurnal Astronomy and Astrophysics. 


Sumber : Kompas.com

Wednesday, July 3, 2013

Ilmuwan : Kehidupan Di Bumi Akan Berakhir Dalam 1 Miliar Tahun

http://astronesia.blogspot.com/

Astronesia-Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti astrobiologi dari University of St Andrews, Skotlandia, memperediksi Bumi akan lenyap satu miliar tahun lagi.
 
Berdasarkan studi itu, para peneliti mengatakan bahwa berakhirnya dunia disebabkan oleh terlalu sedikitnya kandungan karbon dioksida di atmosfer.

Menurut Jack O'Malley James dari University of St Andrews, satu miliar tahun ke depan tingkat penguapan reaksi kimia dari air hujan akan meningkat, sehingga menyebabkan kandungan karbon dioksida di atmosfer Bumi menurun drastis.

"Tingkat karbon diokasida yang menurun drastis akan mengakibatkan tanaman, hewan, bahkan manusia akan musnah dari planet ini," kata James, dilansir The Hindu, 3 Juli 2013.

Pada saat yang sama, tambah James, oksigen akan habis dan mengering karena suhu yang terus meningkat.

"Pendorong utama dari kejadian itu adalah matahari. Selama satu miliar tahun ke depan, matahari akan tetap bersinar dan terus meningkatkan intensitas panasnya pada Bumi, sehingga terjadi pemanasan global yang mengakibatkan lautan menguap," ujar James.

"Di masa-masa yang akan datang, manusia akan memerlukan kantung-kantung air untuk mendukung kehidupan. Manusia akan hidup di dataran yang tinggi, di dalam gua-gua untuk mendapatkan cuaca dingin," tambah James.

Penelitian yang dipimpin oleh James ini juga menciptakan model komputer untuk mensimulasikan prakiraan suhu dalam jangka panjang, dan digunakan untuk memprediksi kepunahan massal makhluk hidup di masa depan.

Model komputer ini tidak hanya meramalkan keadaan planet Bumi pada masa depan, tapi juga membantu manusia dalam menemukan planet baru yang layak huni.

"Sekarang manusia harus berpikir untuk mencari planet baru yang mendukung kehidupan. Terlebih planet-planet yang memiliki atmosfer dan oksigen di dalamnya," tutup James.